Ngampus Bersasirangan

Ngampus Bersasirangan

01 Model Utama 2

Salah satu ciri khas kebudayaan kalimantan selatan adalah kain sasirangan. Sasirangan merupakan salah satu kerajinan tangan yang banyak ditekuni oleh masyarakat kalimantan selatan sekarang ini. Sasirangan bisa dikatakan batik khasnya kalimantan selatan namun sebenarnya berbeda antara batik dan sasirangan. karena sasirangan dibuat dengan cara dijahit atau diikat menggunakan tangan serta ditarik benangnya (dijelujur) sedangkan batik dibuat dengan cara melukis dengan canting.

Di era sekarang ini banyak anak muda yang membudayakan kain sasirangan dengan cara menggunakannya dalam keseharian. Kombinasi antara motif asli yang satu dengan motif lain menarik dengan perpaduan warna yang cerah serta beragam. Selain itu perkembangan sasirangan sekarang ini sangat fashionable. Tak hanya untuk baju saja, namun juga pada kerudung, celana, mukena, dan lainnya. Sehingga sasirangan sekarang mendapat respon baik oleh semua kalangan dan menjadi trend fashion yang kekinian.

Membudayakan mengenakan sasirangan dapat dilakukan dengan cara yang mudah yaitu kebiasaan. Kebiasaan inilah yang sudah lama diterapkan di lingkungan mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat setiap kamis. Melalui Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa BEM KM FMIPA UNLAM lah mahasiswa (i) selalu diingatkan serta diajak untuk mengenakan sasirangan yang tertuang pada program kerja. Program kerja ini merupakan bentuk apresiasi dan rasa cinta mahasiswa FMIPA UNLAM dalam menjaga kebudayaan Kalimantan selatan.

Mari lestarikan kebudayaan indonesia!

Celoteh :

03 Model Utama 2Berkembang | Sasirangan sudah jauh lebih berkembang dari sisi motif, warna, sampai kreasinya. Terbukti sasirangan yang dulu identik untuk orang tua dan dipakai untuk acara-acara formal sekarang sudah diaplikasikan ke kerudung, baju, sepatu dan lain-lain yang warna dan motifnya lebih berwarna sehingga anak muda bisa lebih leluasa mengenakan sasirangan dan lebih-lebih melestarikan budaya seperti basir day yg di terapkan di kampus (Eka Rahmawaty Sahi, Farmasi 2013)

04 Celoteh (Rahmat Amin)Bisnis sampingan | Iseng-iseng bikin sasirangan buat koleksi pribadi namun banyak yang suka dengan motif yang aku buat, mereka pun tertarik dan minta buatkan. Hal tersebutlah yang menjadi  awal mula aku terpikir untuk membuat usaha sasirangan ini. Dengan motif sasirangan yang disesuaikan motifnya dengan ciri khas dari latar belakang si pemesan, misalnya motif benzena untuk mahasiswa kimia, motif DNA untuk mahasiswa biologi, motif Radar untuk mahasiswa fisika dan motif-motif lain yang berbau Sains (Rahmat Amin, Kimia 2013).

05 Celoteh (Rizky Muthmainnah)Jadi Tren | Saya sangat setuju sekali beberapa kampus khususnya kampus saya yang sudah menerapkan “basir day” di setiap hari kamis, sehingga mahasiswa dapat ikut terlibat membudayakan sasirangan. Sasirangan yang beragam mulai dari motif-motif yang bagus hingga model baju, rok ataupun kerudung sasirangan yang sekarang ini lagi trend semakin membuat aku percaya diri dan suka menggunakan sasirangan (Rizky Muthmainnah, Matematika 2013).06 Celoteh (Muhammad Naseruddin)Percaya Diri | Adanya jadwal rutin menggunakan sasirangan bagi mahasiswa yaitu baju, menjadi tidak bingung lagi menggunakan baju apa untuk kuliah dan juga merasa menjadi lebih percaya diri dengan motif dan perpaduan warna pada baju sasirangan yang dipakai. Dengan memulai kebiasaan menggunakan baju sasirangan tersebutlah kita telah ikut membudayakan dan melestarikan sasirangan yang menjadi identitas kita karena kalau bukan kita siapa lagi? (Muhammad Naseruddin, Ilmu Komputer 2014).

Apa Itu Sasirangan? Kain sasirangan adalah kain khas suku Banjar di Kalimantan selatan. Nama “Sasirangan” sebenarnya adalah kata kerja, yaitu mengadopsi dari proses pembuatannya. “Sa” yang berarti “satu” dan “sirang” yang berarti “jelujur/lajur”. Secara harfiah sasirangan bisa diartikan sebagai proses pen-jelujur/lajur-an yang di simpul/diikat dengan benang atau tali lainnya kemudian di celup untuk pewarnaannya.

Sasirangan setidaknya mengenal 19 motif, di antaranya sarigading, ombak sinapur karang (ombak menerjang batu karang), hiris pudak (irisan daun pudak), bayam raja (daun bayam), kambang kacang (bunga kacang panjang), naga balimbur (ular naga), daun jeruju (daun tanaman jeruju), bintang bahambur (bintang bertaburan di langit), kulat karikit (jamur kecil), gigi haruan (gigi ikan gabus), turun dayang(garis-garis), kangkung kaombakan (daun kangkung), dan jajumputan (jumputan). Selain itu ada pula kambang tampuk manggis (bunga buah manggis), dara manginang (remaja makan daun sirih), putri manangis (putrid menangis), kambang cengkeh (bunga cengkeh), awan beriring (awan sedang diterpa angin), dan benawati (warna pelangi).

Menurut sejarahnya, masing-masing motif kain sasirangan mempunyai fungsi yang berbeda-beda dalam ritual upacara adat suku banjar, ada yang khusus untuk pengobatan orang sakit (ghaib), laung (ikat kepala adat Banjar), Kakamban (serudung), udat (kemben), babat (ikat pinggang), tapih bahalai (sarung/jarik untuk perempuan), dan lain sebagainya.

Seiring ke-khasan kain Sasirangan yang “menjual”, peruntukan kain sasirangan tidak hanya sebagai bagian dari ritual adat suku Banjar saja, tapi sudah melebar dan meluas melampaui batas-batas sakral sebagaimana fungsi awalnya. Sekarang, ditangan pejuang-pejuang kreatif, (tanpa berusaha mengubah fungsi utamanya), kain kebanggan masyarakat Kalimantan Selatan ini telah menjelma menjadi berbagai produk seni yang menakjubkan, bahkan sudah siap untuk go internasional! (Sumber : Kompasiana.com)

Artikel ini juga terbit pada Banjarmasinpost edisi Kamis, 08 Juni 2017 | https://issuu.com/deny_bpost/docs/bp20170608/16?ff=true

18

Apresiasi Mahasiswa, Bidang, Komunikasi dan Informasi